Ada Waktunya
Langit sore Salatiga berwarna jingga pucat, seolah matahari pun belajar pamit tanpa banyak kata. Di beranda rumah kecilnya, Aluna duduk
Bertutur Dalam Goresan

Langit sore Salatiga berwarna jingga pucat, seolah matahari pun belajar pamit tanpa banyak kata. Di beranda rumah kecilnya, Aluna duduk
Semarang bukan sekadar titik singgah bagi saya. Setelah berkali-kali hanya melintas saat menuju Jepara atau hendak terbang ke Balikpapan, dua
Continue readingSemarang: Antara Candu Kuliner, Kota Toleran, dan Fenomena Parkir Liar
Sejak dulu, aku menyukai Januari. Bulan itu selalu terasa seperti pintu—dibuka perlahan, menawarkan kemungkinan baru, udara yang lebih ringan, dan
Untuk kedua kalinyakau memilih pergidan tak kembali. Januari tahun lalu,kau menghilang tanpa kata,meninggalkan tanyayang tak pernah selesai. Aku menyesal—mengapa tak
“Mati saja harus bayar sewa lahan tiap tahun.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut saya, diiringi tawa kecil warga
Continue reading“Mati Saja Harus Bayar Sewa Lahan”: Cerita Angkringan dan Kuburan di Semarang
Sudah dua pekan aku memilih tinggal di Semarang. Sejak minggu pertama Desember, hingga kini, ketika Natal 2025 kian dekat. Biasanya,
Menjadi penulis adalah memilih jalan sunyi yang tidak selalu dipahami banyak orang, tetapi justru memiliki kekuatan untuk mengguncang dunia. Penulis
Ketika memilih,kita pun harus siap menanggung konsekuensinya.Sebab setiap arah yang ditunjuk hati,menyimpan jejak yang harus dijalani. Ketika bertutur,kita pun harus
Di meja kayu tua, sejarah mencatat dengan tinta pekat,tentang langkah-langkah yang pernah berlumur debu dan luka.Namun seseorang datang membawa selembar
Entah sudah yang keberapa kali lagi…Aku pun lupa.Tak ingin mengingatnya lagi. Kesal dan kecewa menyatu,mendidih dalam dada.Ingin rasanya marah—tapi pada